Di Balik Seragam dan Pengabdian, Negara Sematkan Bintang Mahaputera kepada Jenderal Listyo Sigit dan Komjen Dedi Prasetyo
JAKARTA — Di balik seragam yang dikenakan, tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga negeri. Di balik setiap langkah dalam menjalankan tugas, ada amanah untuk memastikan masyarakat tetap merasa aman dan negara tetap berdiri kokoh.
Kamis, 1 Oktober 2026, Istana Negara Jakarta menjadi saksi sebuah momentum penuh makna. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo serta Bintang Mahaputera Adipradana kepada Komjen Polisi Dedi Prasetyo.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan negara atas darma bakti, pengabdian luar biasa, serta perjalanan kepemimpinan keduanya selama mengemban amanah sebagai Kapolri dan Wakapolri.
Bukan sekadar tanda kehormatan yang tersemat di dada. Di balik penghargaan itu, ada perjalanan panjang, tanggung jawab yang tidak ringan, serta pengabdian yang menuntut keteguhan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Sebagai pimpinan tertinggi di institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia, setiap keputusan dan langkah yang diambil memiliki arti besar bagi kehidupan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan keamanan dan dinamika bangsa, tugas menjaga ketertiban bukanlah pekerjaan yang mengenal kata mudah.
Ada malam-malam panjang ketika sebagian besar masyarakat terlelap, sementara aparat negara tetap berjaga. Ada tugas yang harus diselesaikan ketika masyarakat membutuhkan perlindungan. Ada pula tanggung jawab besar untuk memastikan hukum, keamanan, dan ketertiban tetap menjadi bagian dari kehidupan berbangsa.
Karena itu, penganugerahan Bintang Mahaputera menjadi sebuah simbol penghargaan negara terhadap pengabdian yang telah diberikan dalam menjalankan amanah tersebut.
Prosesi berlangsung khidmat. Suasana Istana Negara seakan menjadi saksi bahwa setiap pengabdian kepada tanah air memiliki nilai yang tidak ternilai.
Jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga negara, serta para pejabat tinggi TNI dan Polri turut hadir dalam momentum kenegaraan tersebut.
Bagi bangsa, tanda kehormatan itu bukan hanya tentang sebuah penghargaan. Lebih jauh, ia menjadi pengingat bahwa jabatan pada hakikatnya adalah amanah, dan kekuasaan selalu memiliki tanggung jawab kepada rakyat.
Hari itu, penghargaan disematkan. Namun yang jauh lebih penting adalah jejak pengabdian yang ditinggalkan.
Sebab pada akhirnya, nama dan pangkat dapat berubah seiring waktu. Tetapi pengabdian kepada bangsa, ketika dilakukan dengan penuh tanggung jawab, akan selalu menjadi bagian dari perjalanan sejarah negeri.
Dari Istana Negara, penghormatan itu menjadi pesan bahwa setiap tetes keringat, setiap pengorbanan, dan setiap langkah dalam menjaga Merah Putih tidak pernah luput dari perhatian negara.
RI
