Di Balik Deretan Angka, Warga Belawan Masih Hidup dalam Cemas
MEDAN — Angka bisa disusun rapi di atas kertas. Tapi di jalanan Belawan, rasa aman tak pernah semudah itu dihitung.
Sebanyak 211 kasus kejahatan jalanan dinyatakan telah ditangani sepanjang Januari hingga April 2026. Sebuah capaian yang terdengar meyakinkan—hingga kita menengok ke lorong-lorong gelap, tempat kekhawatiran masih setia menunggu.
Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Rosef Efendi, memaparkan data itu dengan lugas.
Sebanyak 77 kasus pencurian dengan pemberatan, 16 kasus pencurian dengan kekerasan. Angka-angka itu berdiri tegak, seolah memberi pesan: situasi terkendali.
Namun di balik deretan statistik, ada realitas yang tak selalu bisa dijinakkan.
“Pergerakan kasus fluktuatif, ini jadi perhatian kami,” ujarnya.
Fluktuatif—kata yang terdengar biasa di ruang rapat, tapi di telinga warga, itu berarti ketidakpastian. Hari ini tenang, besok bisa berubah menjadi kecemasan.
Penindakan juga merambah ke kejahatan lintas negara. Sebanyak 30 tersangka diamankan, sebagian telah divonis, sebagian masih menunggu proses hukum berjalan.
Di sisi lain, perang terhadap narkoba menghasilkan 199 kasus dengan 116 tersangka—79 di antaranya pengedar.
Lagi-lagi angka berbicara.
Namun satu hal tetap menggantung di udara: apakah angka cukup untuk meredakan rasa takut?
Praktisi hukum Helmax Alex Tampubolon melihat celah yang tak bisa ditutup oleh statistik.
“Jangan sampai hukum sibuk menghitung keberhasilan, tapi lupa menghadirkan ketenangan,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya angka kasus narkoba justru menjadi tanda bahwa persoalan belum selesai—ia hanya berpindah bentuk.
“Kalau yang terus tertangkap hanya pemain kecil, sementara jaringan besar tetap utuh, maka itu bukan penyelesaian. Itu hanya siklus,” katanya, tajam namun terukur.
Belawan, menurutnya, tidak kekurangan penindakan. Yang kurang adalah keberanian untuk menembus hingga ke akar.
Sebab selama begal masih mengintai di tikungan sepi, narkoba masih menemukan jalannya, dan tawuran masih pecah tanpa pencegahan, maka angka keberhasilan hanya akan menjadi catatan—bukan jawaban.
“Data itu penting. Tapi yang lebih penting, masyarakat bisa pulang tanpa rasa takut,” ucapnya.
Dan di sanalah persoalan sebenarnya bermula.
Di antara laporan yang tersusun rapi dan pernyataan yang terdengar meyakinkan, tersisa satu kenyataan yang sulit dibantah—
Belawan belum sepenuhnya tenang.
Selama rasa aman masih terasa jauh, setiap angka yang diumumkan akan selalu menyisakan tanya:
apakah keadilan sudah benar-benar hadir, atau baru sekadar terlihat?
Redaksi
