“Saat Rakyat Turun Tangan: Belawan Bergolak, Kapolres Didesak Mundur!”
BELAWAN – Di bawah terik siang yang tak lagi sekadar panas, melainkan membakar amarah, sekelompok warga berdiri di depan gerbang Mapolres Pelabuhan Belawan, Kamis (16/04). Mereka datang bukan sekadar membawa spanduk—mereka membawa luka, keresahan, dan kekecewaan yang telah lama dipendam.
Dengan cat merah yang menyerupai darah yang menetes dari keadilan yang sekarat, tulisan-tulisan di spanduk mereka berbicara lebih keras dari suara pengeras mana pun: “Narkoba dan Perjudian Marak, Copot Kapolres!”
Di tengah teriakan yang menggema, satu suara orator menembus barisan aparat yang berjaga. Suara itu bukan sekadar protes—ia adalah jeritan dari lingkungan yang perlahan dirusak, dari generasi muda yang terancam hilang arah.
“Jangan biarkan kampung kami mati pelan-pelan!” teriaknya, suaranya serak, namun penuh tekanan. “Di mana hukum saat narkoba merajalela? Di mana keadilan saat judi jadi tontonan sehari-hari?”
Tak hanya aparat kepolisian yang menjadi sasaran. Warga juga meluapkan kemarahan terhadap aparat lingkungan. Spanduk lain menohok tanpa basa-basi: “Kita Sedang Berduka, Kepling Sibuk Membuat Ulah. Copot Kepling!” — sebuah sindiran keras yang menggambarkan retaknya kepercayaan hingga ke akar pemerintahan paling bawah.
Hari itu, gerbang Mapolres bukan sekadar pintu masuk institusi hukum. Ia menjadi saksi bisu betapa kepercayaan masyarakat tengah diguncang hebat.
Meski aparat mencoba meredam dengan pendekatan dialog, dan perwakilan akhirnya diterima untuk audiensi, bara di dada massa belum padam. Adu argumen sempat terjadi—bukan karena ingin melawan, tapi karena terlalu lama merasa tak didengar.
Sementara itu, arus lalu lintas yang tersendat oleh deretan truk kontainer seolah menjadi simbol: sistem yang berjalan, tapi tersendat, berat, dan penuh hambatan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih bertahan. Menunggu. Bukan sekadar jawaban, tapi bukti—bahwa hukum masih punya nyali, dan keadilan belum benar-benar mati di tanah mereka
Fadila
Editor:indra
