“Ditanam Tanpa Nurani? Proyek Pipa Diduga ‘Asal Jadi’ di Jalan Negata, Ancam Nyawa Warga!”
Di sepanjang Jalan Negata, dari Anak Petai hingga Lembak, tanah dikoyak, pipa ditanam—namun di balik itu semua, tersimpan kegelisahan yang kian membesar. Proyek pemasangan pipa yang diduga milik PT Pertamina kini menjadi sorotan panas. Bukan karena prestasi, tapi karena dugaan kelalaian yang bisa berujung petaka.Sabtu (02/05/2026), fakta di lapangan berbicara lebih keras dari
klaim mana pun. Pekerjaan terlihat dikerjakan tanpa kehati-hatian, tanpa disiplin teknis, seolah waktu lebih penting daripada nyawa manusia. Jika dugaan ini benar, maka yang sedang ditanam bukan hanya pipa—melainkan ancaman yang bisa meledak kapan saja.
Lebih menggetarkan, proyek ini berjalan tanpa identitas. Tak ada papan nama. Tak ada informasi. Tak ada transparansi. Proyek besar, tapi senyap. Siapa pelaksana? Berapa anggarannya? Apa standar yang dipakai? Tak satu pun dijawab. Publik dipaksa hidup dalam ketidaktahuan—sementara risiko mengintai di bawah kaki mereka.
Padahal aturan sudah jelas. Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2021 mewajibkan standar ketat: kedalaman tanam memadai, perlindungan casing, hingga lapisan pasir sebagai pengaman. Itu bukan formalitas—itu garis batas antara keselamatan dan bencana.
Namun yang terlihat di lapangan justru mematahkan semua itu. Dugaan kuat mengarah pada pemasangan yang dangkal, minim perlindungan, dan jauh dari standar. Jika ini dibiarkan, maka setiap jengkal jalan itu bisa berubah menjadi titik rawan—bom waktu yang menunggu momen untuk menghancurkan.
Yang lebih menyakitkan, ini bukan kali pertama publik bersuara. Kritik sudah dilontarkan. Peringatan sudah diberikan. Namun tak ada perubahan. Tak ada perbaikan. Tak ada penjelasan. Seolah semua suara masyarakat hanya angin lalu.
Ke mana tanggung jawab? Ke mana kepedulian?
Upaya konfirmasi kepada pihak PT Pertamina hingga kini belum mendapat jawaban. Diamnya perusahaan justru memperdalam luka kepercayaan publik—dan mempertegas kesan bahwa keselamatan bukan prioritas utama.
Media Zona Merah memastikan akan melayangkan surat resmi kepada Pertamina Hulu Rokan Zona 4 untuk menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban.
Sebab jika benar standar diabaikan, maka ini bukan sekadar proyek gagal—ini adalah kelalaian yang mempertaruhkan nyawa.
Dan ketika nyawa jadi taruhan, diam bukan lagi pilihan.
Tim
