Di Balik Kedekatan dengan Petinggi Negara, Agus Flores Tetap Bersahaja
Jakarta25-02-2026— Kedekatan dengan para petinggi negara kerap membuat seseorang dipandang memiliki jarak dengan banyak orang. Namun, gambaran itu justru tidak melekat pada sosok Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon (PW Fast Respon), Agus Flores.
Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal PW Fast Respon, Imam Rahmat, yang mengaku menyaksikan langsung bagaimana relasi luas yang dimiliki Agus Flores tidak pernah mengubah sikap pribadinya dalam memimpin organisasi.
Di tengah aktivitas organisasi yang padat, Imam mengatakan komunikasi Agus Flores dengan sejumlah petinggi Mabes Polri maupun pejabat negara memang bukan hal asing. Namun baginya, yang paling berkesan bukanlah kedekatan itu, melainkan sikap rendah hati yang tetap dijaga.
“Saya berani menyampaikan ini karena saya melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana ketua umum berkomunikasi langsung dengan para petinggi,” ujar Imam di Jakarta.
Menurut Imam, relasi yang dimiliki Agus Flores tidak pernah dijadikan alat untuk menunjukkan kekuasaan atau membangun jarak dengan anggota organisasi. Sebaliknya, ia tetap hadir sebagai pemimpin yang sederhana dan mudah didekati.
Dalam berbagai kesempatan, kata Imam, Agus Flores justru lebih sering menempatkan dirinya sebagai rekan diskusi dibanding sosok yang ingin dihormati secara berlebihan. Sikap itu membuat banyak anggota merasa dekat secara emosional.
“Beliau tidak pernah menunjukkan sikap arogan. Justru tetap bersahaja,” katanya.
Cerita tentang Agus Flores tidak berhenti pada aktivitas organisasi. Imam juga mengenang sebuah pengalaman yang menurutnya cukup membekas, yakni saat Agus Flores berkunjung ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Di tengah megahnya bangunan bersejarah itu, Agus disebut sempat menyentuh Patung Kunto Bimo yang berada di kawasan candi. Bagi Imam, momen tersebut terasa istimewa karena tidak semua pengunjung dapat melakukannya.
Ia bahkan mengaitkan pengalaman itu dengan keyakinannya bahwa Agus Flores merupakan trah keturunan Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
“Saya heran, tidak semua orang bisa menyentuh patung itu, tetapi ketua umum saya bisa,” tuturnya.
Meski memiliki cerita perjalanan dan relasi yang luas, Imam menegaskan satu hal yang selalu dipegang Agus Flores: tidak ingin kedekatan maupun nama besarnya dipublikasikan secara berlebihan.
Bagi Agus Flores, kata Imam, yang terpenting bukanlah sorotan publik, melainkan kerja nyata dan kontribusi bagi organisasi serta masyarakat.
Di mata anggotanya, justru di situlah letak kepemimpinan Agus Flores — dekat dengan banyak kalangan, namun tetap membumi.
Dila
Editor:indra
