Pelindo Gandeng Pengguna Jasa, Menyatukan Denyut Logistik Indonesia dari Pelabuhan hingga Masyarakat
MEDAN, Agustus 2026 – Di balik setiap kapal yang berlayar, setiap peti kemas yang bergerak, dan setiap barang yang tiba di suatu daerah, ada denyut kehidupan masyarakat yang ikut bergerak di dalamnya.
Logistik bukan sekadar persoalan angka, jadwal, maupun bongkar muat di pelabuhan. Di dalamnya ada kebutuhan industri, keberlangsungan usaha, penghasilan para pekerja, hingga harapan masyarakat agar barang dapat hadir tepat waktu dengan biaya yang semakin terjangkau.
Semangat itulah yang terus didorong PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melalui Pelindo Indonesia Network Pendulum (PINP).
Pelindo menggandeng perusahaan pelayaran, freight forwarder, cargo owner, pemilik depo hingga para pemangku kepentingan lainnya untuk membangun ekosistem logistik nasional yang tidak hanya semakin terhubung, tetapi juga lebih efisien, pasti dan mampu memberikan manfaat yang dirasakan hingga ke tengah masyarakat.
Direktur Komersial Pelindo, Farid Padang, menegaskan bahwa transformasi PINP bukan semata-mata membangun jaringan pelayaran.
Lebih dari itu, PINP merupakan ikhtiar untuk menyatukan kekuatan seluruh pelaku logistik agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Pelindo ingin memastikan setiap kebijakan dan program transformasi yang dijalankan selaras dengan kebutuhan pengguna jasa. Kolaborasi menjadi kunci untuk menghadirkan jaringan logistik yang lebih andal, meningkatkan kepastian jadwal pelayaran, sekaligus mendukung upaya menekan biaya logistik nasional,” ujar Farid dalam Forum Diskusi bersama para pengguna jasa usai pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Grha Pelindo Medan, Senin (17/8/2026).
Menurut Farid, keberadaan PINP diharapkan mampu menjawab salah satu tantangan penting dalam sistem logistik nasional, yakni ketidakseimbangan arus muatan atau imbalance cargo.
Melalui konsolidasi muatan, peningkatan kepastian jadwal kapal, penguatan konektivitas antarwilayah serta skema insentif bagi perusahaan pelayaran yang mampu meningkatkan utilisasi muatan, Pelindo berupaya menciptakan jaringan yang lebih seimbang dan efisien.
Sebab, ketika kapal tidak lagi berlayar dengan muatan yang timpang, ketika jadwal semakin pasti, dan ketika konektivitas antarwilayah semakin kuat, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh operator pelabuhan.
Ada industri yang dapat bergerak lebih cepat.
Ada pelaku usaha yang memperoleh kepastian.
Ada barang kebutuhan masyarakat yang dapat didistribusikan lebih efisien.
Dan pada akhirnya, ada roda perekonomian yang terus berputar.
“Dengan jaringan yang lebih terintegrasi, diharapkan utilisasi terminal dapat meningkat dan distribusi logistik antarwilayah menjadi semakin efisien. Pada akhirnya, manfaat tersebut akan dirasakan oleh industri pelayaran, pemilik barang, hingga masyarakat luas,” tambah Farid.
Farid menyampaikan, keberhasilan PINP tidak mungkin dicapai oleh Pelindo seorang diri.
Dibutuhkan tangan yang saling menggenggam antara Pelindo, perusahaan pelayaran, freight forwarder, cargo owner, pemilik depo dan regulator.
Karena itu, komunikasi dan dialog dengan pengguna jasa terus dilakukan melalui berbagai forum dan sosialisasi di sejumlah wilayah.
“Masukan dari para pengguna jasa menjadi bagian penting dalam penyempurnaan implementasi PINP. Kami ingin memastikan transformasi yang dilakukan mampu menjawab kebutuhan industri dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan daya saing logistik Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, Executive Director 1 Pelindo Regional 1, Jonedi Ramli, menilai kawasan barat Indonesia memiliki posisi strategis dalam perjalanan transformasi jaringan logistik nasional.
Pelindo Regional 1, katanya, siap menjadi bagian dari proses besar tersebut.
“Pelindo Regional 1 siap menjadi mitra strategis bagi perusahaan pelayaran dan seluruh pengguna jasa dalam mendukung implementasi transformasi yang sedang berjalan. Kami ingin memastikan setiap transformasi yang dilakukan dapat memberikan kemudahan operasional, meningkatkan efisiensi layanan, serta menciptakan nilai tambah bagi pelanggan,” ujar Jonedi.
Menurutnya, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari seberapa cepat kapal dilayani atau seberapa banyak barang yang dipindahkan.
Lebih jauh dari itu, keberhasilan tersebut terletak pada seberapa besar perubahan yang mampu dirasakan oleh para pengguna jasa dan masyarakat.
Karena di setiap rantai logistik, ada manusia yang menggantungkan hidup.
Ada pengusaha yang mempertaruhkan modal.
Ada pekerja yang menunggu penghasilan.
Dan ada keluarga yang berharap roda ekonomi terus berjalan.
Jonedi menambahkan, keterlibatan perusahaan pelayaran menjadi faktor penting dalam memperkuat kolaborasi dan meningkatkan efisiensi rantai pasok serta daya saing logistik Indonesia.
Langkah tersebut sejalan dengan agenda transformasi Danantara Indonesia dalam mendorong optimalisasi dan penguatan kinerja BUMN, termasuk melalui pengembangan layanan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Apresiasi terhadap langkah Pelindo juga disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia/Indonesian Logistics and Forwarders Association (DPW ALFI/ILFA), Surianto.
Menurutnya, forum dialog seperti yang dilakukan Pelindo menjadi ruang penting untuk mempertemukan kepentingan operator pelabuhan dengan realitas yang dihadapi para pelaku usaha di lapangan.
“Forum seperti ini sangat positif karena membuka ruang komunikasi langsung antara pelaku usaha dan Pelindo. Kami dapat memahami arah transformasi yang sedang dilakukan sekaligus menyampaikan masukan dari sisi operasional. Sinergi seperti ini penting untuk bersama-sama meningkatkan efisiensi dan mendukung kelancaran distribusi logistik nasional,” ujar Surianto.
Bagi Pelindo, PINP bukan sekadar nama sebuah program transformasi.
Di baliknya ada harapan untuk membangun Indonesia yang semakin terhubung—dari pelabuhan ke pelabuhan, dari pulau ke pulau, dari pusat industri hingga daerah yang jauh dari pusat perdagangan.
Sebab Indonesia adalah negeri kepulauan.
Dan untuk membuat negeri ini benar-benar terhubung, dibutuhkan lebih dari sekadar kapal yang berlayar.
Dibutuhkan jaringan yang kuat, pelayanan yang pasti, biaya yang efisien, serta kolaborasi yang tulus dari seluruh pihak.
Pelindo optimistis implementasi PINP dan penguatan kolaborasi dengan perusahaan pelayaran serta cargo owner dapat mempercepat transformasi layanan kepelabuhanan sekaligus menghadirkan jaringan logistik nasional yang semakin terintegrasi, efisien dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi itu bukan hanya tentang pelabuhan yang semakin sibuk.
Bukan pula semata tentang angka pertumbuhan dan peningkatan utilisasi.
Tetapi tentang Indonesia yang semakin terhubung, usaha yang semakin kuat, distribusi yang semakin lancar, dan masyarakat yang semakin merasakan manfaat dari denyut perekonomian negeri ini.
Indra/humas
