KAPOLDA SUMUT DILAPORKAN KE PAMINAL MABES POLRI, AIR MATA CALON DOKTER JATUH DI UJUNG PERJUANGAN
SUMUT || Malam-malam para calon dokter itu kini tak lagi dipenuhi mimpi tentang menyelamatkan nyawa pasien. Yang tersisa hanyalah kecemasan, tangisan, dan ketakutan kehilangan masa depan yang selama ini mereka perjuangkan dengan darah, air mata, dan pengorbanan keluarga.
Laporan polisi bernomor STTLP/B/808/V/2026/SPKT/POLDA SUMATERA UTARA terkait persoalan administrasi kampus di Universitas Islam Sumatera Utara kini mengguncang perhatian publik. Persoalan yang awalnya dianggap sekadar urusan administrasi perlahan berubah menjadi badai besar yang menghantui masa depan mahasiswa, terutama para calon dokter yang tinggal selangkah lagi menggapai cita-cita mereka.
Di tengah situasi itu, Kapolda Sumatera Utara dilaporkan ke Paminal Mabes Polri. Langkah tersebut disebut sebagai bentuk permohonan pengawasan agar proses hukum berjalan jujur, transparan, dan tidak berpihak. Publik berharap institusi Polri tetap menjadi benteng terakhir pencari keadilan, bukan tempat runtuhnya harapan anak bangsa.
Persoalan ini dinilai menyentuh hak konstitusional warga negara. Pasal 31 ayat (1) UUD 1945 dengan tegas menyatakan: “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”
Sementara Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menegaskan: “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi juga menegaskan bahwa mahasiswa berhak memperoleh layanan pendidikan secara adil hingga menyelesaikan studinya.
Namun di balik bunyi pasal-pasal itu, ada kisah pilu yang tak tertulis di lembar negara. Ada orang tua yang rela menjual tanah, perhiasan, bahkan meminjam uang demi melihat anaknya memakai jas dokter. Ada ibu yang diam-diam menangis dalam doa malamnya. Ada ayah yang tetap tersenyum meski tubuhnya lelah mencari biaya kuliah anaknya.
Kini semua pengorbanan itu terasa seperti berada di ambang kehancuran.
Para mahasiswa disebut hanya bisa saling menguatkan di tengah ketidakpastian yang menghantam mental mereka. Sebagian takut perjuangan bertahun-tahun akan berakhir sia-sia. Sebagian lainnya mulai kehilangan harapan karena masa depan yang mereka bangun perlahan terasa runtuh di depan mata.
Jeritan mereka kini menggema bukan hanya di ruang kampus, tetapi juga di hati masyarakat: jangan biarkan hukum membunuh mimpi anak-anak bangsa yang sedang berjuang menjadi penyelamat nyawa manusia.
Sebab di balik laporan itu, sesungguhnya ada tangisan panjang para calon dokter yang hanya ingin satu hal: keadilan… agar pengorbanan orang tua mereka tidak berakhir menjadi luka seumur hidup.
Red
