Tangis Mahasiswi Pecah, Publik Desak Polrestabes Medan Segera Tangkap Pelaku Curanmor di Percut Sei Tuan
Percut Sei Tuan, Deli Serdang — Malam itu seharusnya menjadi malam biasa bagi Greace Anastasya Sibuea (18). Seorang mahasiswi muda yang hanya ingin bersilaturahmi dan melepas penat bersama teman-temannya di sebuah kos sederhana di Jalan Kolam No. 39, Kost Mestika, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Namun siapa sangka, malam yang tenang itu berubah menjadi luka mendalam yang mungkin akan terus membekas dalam hidupnya.
Dengan penuh keyakinan, Greace memarkirkan Honda Scoopy putih kesayangannya di halaman kos dalam keadaan stang terkunci. Motor itu bukan sekadar kendaraan biasa. Bagi dirinya, motor tersebut adalah teman perjuangan — yang setiap hari menemaninya berangkat kuliah, menerobos panas dan hujan demi mengejar cita-cita dan masa depan.
Tetapi takdir malam itu begitu kejam.
Saat waktu menunjukkan sekitar pukul 23.40 WIB dan dirinya hendak pulang, langkah Greace mendadak terhenti. Pandangannya kosong. Dadanya sesak. Motor bernomor polisi BK 6266 TBY itu sudah tidak ada lagi di tempat semula.
Lenyap.
Hilang tanpa suara di tengah sunyinya malam.
Dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, Greace berlari kecil mencari ke setiap sudut lokasi. Ia berharap mungkin motornya dipindahkan seseorang. Ia terus mencari sambil menahan tangis yang mulai pecah. Namun semakin lama mencari, kenyataan pahit itu semakin menghantam hatinya.
Motor yang selama ini menjadi saksi perjuangannya benar-benar telah digondol maling.
Di bawah redupnya lampu malam Jalan Kolam, tangis Greace akhirnya pecah tak terbendung. Air mata mengalir deras. Suaranya bergetar menahan syok, sedih, takut, dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang anak muda pejuang selain kehilangan sesuatu yang didapat dari perjuangan dan pengorbanan.
Bukan hanya kendaraan yang hilang malam itu. Rasa aman, ketenangan, bahkan semangatnya seakan ikut dirampas oleh pelaku yang tega mengambil hak orang lain tanpa belas kasihan.
Kerugian ditaksir mencapai Rp22 juta.
Warga sekitar yang melihat kondisi korban turut merasa iba. Banyak yang berharap kasus ini tidak berakhir menjadi sekadar laporan tanpa kepastian. Masyarakat meminta Polrestabes Medan benar-benar turun tangan dan bergerak cepat mengungkap pelaku pencurian yang semakin meresahkan warga.
Korban sendiri telah membuat laporan resmi dengan nomor: STTLP/B/2165/V/2026/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA.
Kini harapan besar tertuju kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan penyelidikan serius, menelusuri rekaman CCTV, memburu pelaku, dan mengembalikan rasa aman bagi masyarakat yang mulai dihantui ketakutan akibat maraknya aksi curanmor.
Sementara itu, di balik dinginnya malam Percut Sei Tuan, seorang mahasiswi muda hanya bisa menangis dalam diam dan berdoa… berharap motornya yang menjadi teman perjuangan hidupnya dapat kembali pulang.
Dan di luar sana, masyarakat menunggu satu hal: keadilan ditegakkan, dan pelaku segera ditangkap tanpa kompromi.
Red
