Solar Nelayan Diduga Dijarah Mafia! SPBU Kampung Salam Disorot, Aparat Ditantang Bongkar Aktor Besarnya
Medan 26/5/2026 — Tangis nelayan kecil di pesisir Belawan kini bukan lagi sekadar jeritan lapar, melainkan jeritan kemarahan yang nyaris meledak. Di saat mereka bertaruh nyawa melawan ombak demi membawa pulang ikan untuk keluarga, solar subsidi yang menjadi urat nadi kehidupan justru diduga dirampok secara sistematis oleh mafia BBM berskala besar.
Nama SPBU Kampung Salam kini menjadi sorotan panas masyarakat. SPBU itu diduga menjadi “keran utama” perputaran solar subsidi nelayan yang kemudian dialirkan ke gudang mafia di kawasan Pajak Baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan.
Ironisnya, praktik itu disebut berlangsung terang-terangan seolah tanpa takut hukum. Setiap hari, becak-becak pengangkut BBM hilir mudik dari SPBU menuju gudang penampungan. Solar subsidi yang dibeli memakai barcode nelayan diduga tak pernah benar-benar dinikmati oleh nelayan kecil yang berhak.
“Setiap hari minyak nelayan dikuras mafia, bang. Barcode nelayan dipakai, tapi minyaknya masuk gudang mereka,” ungkap seorang nelayan dengan mata merah menahan emosi kepada wartawan, Senin (25/5).
Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan luka yang dalam. Para nelayan merasa dipermainkan di negeri sendiri. Saat mereka kesulitan mendapatkan solar untuk melaut, mafia justru diduga hidup mewah dari hasil “menghisap” subsidi negara.
Yang membuat warga makin geram, aktivitas tersebut disebut bukan rahasia umum lagi. Becak pengangkut BBM keluar masuk SPBU nyaris setiap hari tanpa hambatan. Gudang penampungan di Pajak Baru diduga terus “menelan” solar subsidi sebelum dijual kembali dengan keuntungan besar.
“Kalau SPBU tidak tahu, mana mungkin bisa jalan terus seperti itu bang…,” ucap nelayan itu lirih sambil tersenyum pahit.
Ucapan tersebut seolah menjadi sinyal keras bahwa praktik dugaan mafia BBM subsidi di Belawan bukan permainan kecil. Di balik barcode nelayan dan antrean solar, negara diduga sedang “dibobol” perlahan-lahan setiap hari.
Yang lebih menyakitkan, korban utamanya adalah nelayan kecil. Mereka terpaksa mengurangi aktivitas melaut karena sulit memperoleh solar subsidi, sementara para pemain besar diduga bebas mengeruk keuntungan miliaran rupiah tiap bulan.
Pantauan wartawan di lapangan memperlihatkan aktivitas mencurigakan berlangsung sangat terbuka. Becak pengangkut BBM tampak mondar-mandir tanpa rasa takut. Kondisi itu memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah hukum benar-benar masih hidup di Belawan?
Wakil Ketua Forum Wartawan Kejaksaan (FORWAKA) Negeri Belawan, Dian, angkat suara keras. Ia meminta aparat penegak hukum tidak lagi tutup mata terhadap dugaan mafia solar subsidi yang disebut semakin brutal.
“Ini bukan lagi pelanggaran biasa. Ini dugaan penghisapan uang negara secara berjamaah. Negara bisa rugi miliaran rupiah tiap bulan. Aparat jangan kalah dengan mafia BBM. Tangkap semua pelaku dan bongkar siapa pun yang bermain di belakangnya,” tegas Dian.
FORWAKA mendesak Kejaksaan, Kepolisian, hingga Pertamina segera turun tangan melakukan penyelidikan total terhadap dugaan penyalahgunaan solar subsidi tersebut.
Jika dugaan ini benar, maka yang dirampas bukan hanya uang negara, tetapi juga hak hidup masyarakat pesisir. Subsidi yang seharusnya menjadi penyelamat nelayan kecil justru diduga berubah menjadi mesin uang mafia.
Kini masyarakat Belawan menunggu dengan penuh kemarahan dan harapan: apakah aparat berani membongkar gurita mafia solar subsidi sampai ke akar-akarnya, atau justru membiarkannya terus menghisap uang negara dan menghancurkan hidup nelayan kecil sedikit demi sedikit?
Red
