Bukan Sekadar Trofi, Ada Persaudaraan yang Tertinggal di Lapangan: Dansat Brimob Sumut Wakili Kapolda Hadiri Penutupan Futsal Panglima TNI
MEDAN — Peluh telah jatuh. Napas terengah. Kaki mulai terasa berat. Namun semangat untuk memberikan yang terbaik belum juga padam.
Di tengah gemuruh sorak penonton yang memenuhi Indoor Stadium Sport Center, Jalan Pancing, Medan, Sabtu (19/9/2026), para pemain Open Tournament Futsal Panglima TNI berjuang hingga detik terakhir.
Ada yang datang dengan membawa harapan untuk menjadi juara. Ada yang harus menerima kekalahan setelah perjuangan panjang. Namun di balik kemenangan dan kekalahan itu, tersimpan satu cerita yang jauh lebih besar: tentang sportivitas, persahabatan, kebersamaan, dan semangat menjaga persatuan.
Penutupan Open Tournament Futsal Panglima TNI dalam rangka HUT ke-81 TNI Tahun 2026 itu berlangsung penuh semangat dan kekhidmatan. Momen tersebut turut dihadiri Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Pol. M. Rendra Salipu, S.I.K., M.Si., yang hadir mewakili Kapolda Sumut.
Kehadiran Dansat Brimob bukan sekadar memenuhi undangan. Di balik kehadirannya terselip pesan kuat tentang pentingnya sinergitas TNI-Polri dalam membangun kebersamaan melalui kegiatan positif, termasuk olahraga.
Acara penutupan dipimpin Wadan Kodaeral I Brigjen TNI (Mar) Ali Bahar Saragih, S.E., M.M., dan dihadiri sejumlah pejabat serta perwakilan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan insan olahraga Sumatera Utara.
Suasana semakin menggetarkan ketika para finalis memasuki arena melalui defile. Dentuman semangat, tepuk tangan penonton, serta lantunan FIFA Anthem kemudian berpadu dengan lagu “Bagimu Negeri”.
Sesaat, arena pertandingan seolah bukan lagi sekadar tempat perebutan gelar juara.
Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa di balik seragam, jabatan, dan institusi yang berbeda, semuanya berdiri dalam satu semangat yang sama: mengabdi untuk negeri.
Wadan Kodaeral I Brigjen TNI (Mar) Ali Bahar Saragih kemudian menyampaikan sambutan sekaligus secara resmi menutup turnamen.
Tak lama berselang, pertandingan final dimulai.
Pertarungan berlangsung sengit. Setiap peluang diperebutkan. Setiap bola dikejar. Keringat dan tenaga dicurahkan tanpa mengenal lelah. Para pemain berusaha mempertahankan harapan hingga peluit akhir berbunyi.
Di pinggir lapangan, sorakan penonton terus menggema. Ada kegembiraan ketika bola bersarang di gawang. Ada pula wajah kecewa ketika peluang gagal menjadi gol.
Tetapi ketika pertandingan usai, rivalitas pun berhenti.
Tangan saling berjabat. Senyum kembali mengembang. Para pemain berdiri bersama. Sebuah pelajaran sederhana kembali terlihat di depan mata: menang bukan alasan untuk merendahkan, dan kalah bukan alasan untuk menyerah.
Pada kategori Exhibition, TNI AD berhasil meraih juara pertama, TNI AU juara kedua, Polri juara ketiga, dan TNI AL juara keempat.
Sementara kategori umum, Siantar Man berhasil meraih juara pertama, disusul Al Arasy sebagai juara kedua, Coffee Station juara ketiga, dan Bank Sumut juara keempat.
Penghargaan individu juga diberikan kepada pemain yang tampil menonjol sepanjang turnamen. Dodi Sialoho dari Siantar Man meraih Best Player, Ardiansyah dari Vira Yuda Perkasa dinobatkan sebagai Top Scorer, sementara Nico dari Siantar Man menerima penghargaan Best Goal Keeper.
Saat trofi dan hadiah diserahkan, sorot mata para pemenang memancarkan kebahagiaan. Namun kemenangan itu tidak lahir dalam satu malam.
Ada latihan panjang. Ada keringat yang jatuh berkali-kali. Ada rasa lelah yang harus ditahan. Ada harapan yang sempat diragukan. Dan akhirnya, semua perjuangan itu terbayar di atas lapangan.
Bagi mereka yang belum membawa pulang trofi, perjuangan juga tidak sia-sia.
Sebab ada pengalaman yang akan dikenang, ada persahabatan yang terjalin, dan ada semangat untuk kembali berdiri dan berjuang pada pertandingan berikutnya.
Kehadiran Dansat Brimob Polda Sumut mewakili Kapolda Sumut sekaligus menjadi simbol dukungan Polri terhadap kegiatan olahraga yang mampu mempertemukan berbagai unsur dalam suasana penuh keakraban.
Dari lapangan futsal itu, sebuah pesan sederhana namun dalam kembali lahir:
Bahwa persaudaraan tidak selalu dibangun melalui meja pertemuan. Kadang, ia tumbuh dari sebuah pertandingan, dari keringat yang sama-sama jatuh, dari tangan yang saling berjabat setelah peluit panjang, dan dari hati yang sama-sama mencintai negeri.
Turnamen pun berakhir.
Trofi berpindah tangan.
Sorak-sorai perlahan mereda.
Namun semangat sportivitas, kebersamaan, dan sinergitas yang lahir dari turnamen tersebut diharapkan tetap hidup, menjadi bagian dari perjalanan panjang menjaga persatuan dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan dan foto bersama seluruh pejabat, panitia, peserta, serta undangan.
Indra/humas