Saat Banjir Surut, FKG USU Datang Membawa Harapan dan Merawat Senyum Warga Desa Cempa
LANGKAT — Air banjir mungkin telah perlahan meninggalkan Desa Cempa. Namun bagi warga, cerita tentang banjir belum benar-benar berakhir.
Masih ada rumah yang harus dibersihkan. Masih ada barang-barang yang rusak. Masih ada rasa lelah setelah berhari-hari berjuang menyelamatkan keluarga dan apa yang masih bisa diselamatkan.
Di tengah keadaan itulah, sebuah kepedulian datang.
Bukan dengan janji besar, melainkan dengan langkah sederhana yang menyentuh kebutuhan masyarakat: memeriksa kesehatan, memberikan pengetahuan, dan membantu warga menjaga senyum mereka setelah melewati masa sulit.
Kamis (9/7/2026), tim Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara (FKG USU) hadir di Desa Cempa, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, membawa kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa edukasi dan pelayanan preventif kesehatan gigi dan mulut bagi warga terdampak banjir.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Masyarakat Terdampak Banjir melalui Edukasi dan Pelayanan Preventif” itu bukan sekadar agenda pengabdian.
Di balik pemeriksaan dan penyuluhan, ada pesan sederhana: warga yang sedang bangkit dari bencana tetap berhak mendapatkan perhatian terhadap kesehatannya.
Ketua tim pengabdian, drg. Mutia Amalia Nasution, M.Biomed., Sp.Ort., Subsp.DDP(K), mengatakan masa pascabanjir dapat membawa berbagai persoalan bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut.
“Kerusakan fasilitas umum, keterbatasan akses terhadap air bersih, serta terganggunya layanan kesehatan dapat menyulitkan masyarakat dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” ujarnya.
Banjir tidak hanya membawa air ke dalam rumah-rumah warga.
Dalam situasi pascabencana, keterbatasan sanitasi dan air bersih serta perubahan pola konsumsi juga dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan gigi dan mulut, seperti karies dan penyakit periodontal.
Dan di antara mereka yang paling membutuhkan perhatian adalah anak-anak.
Sebab di balik wajah polos mereka, ada masa depan yang sedang tumbuh. Kesehatan gigi dan mulut bukan hanya tentang bagaimana mereka tersenyum hari ini, tetapi juga tentang pertumbuhan rahang, susunan gigi, kemampuan mengunyah dan kualitas hidup mereka kelak.
Karena itu, tim FKG USU memberikan edukasi dengan cara yang interaktif.
Warga diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut, menerapkan PHBS, menyikat gigi dengan teknik yang benar, mengenali tanda-tanda gangguan gigi yang membutuhkan penanganan serta memilih pola makan yang tetap mendukung kesehatan gigi dan mulut dalam kondisi pascabencana.
Ada penyuluhan.
Ada diskusi.
Ada tanya jawab.
Dan ada pemeriksaan.
Pemahaman peserta juga dievaluasi melalui kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan.
Namun kepedulian FKG USU tidak berhenti pada penyampaian materi.
Tim juga memberikan pelayanan preventif berupa screening kesehatan rongga mulut dan pembersihan karang gigi (scaling).
Bagi sebagian orang, mungkin itu terlihat sederhana.
Tetapi bagi warga yang baru saja melewati masa sulit akibat banjir, perhatian semacam itu memiliki arti tersendiri.
Ada rasa bahwa mereka tidak dilupakan.
Bahwa setelah banjir surut, masih ada yang datang untuk bertanya tentang kesehatan mereka.
Masih ada yang peduli ketika mereka sedang berusaha menata kembali kehidupan.
Mutia menjelaskan, kesehatan rongga mulut memiliki keterkaitan dengan kondisi kesehatan secara umum. Gangguan periodontal yang tidak ditangani dapat menyebabkan gigi menjadi goyang hingga tanggal, yang pada akhirnya dapat mengganggu fungsi mengunyah, status gizi dan kualitas hidup.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FKG USU dan Kepala Desa Cempa.
Penyerahan bingkisan kepada Kepala Desa Cempa turut menjadi simbol kebersamaan dan kerja sama dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat.
Pemerintah Desa Cempa juga memberikan dukungan dengan memfasilitasi lokasi penyuluhan dan pelayanan kesehatan gigi bagi warga.
Hari itu, ilmu dibagikan.
Kesehatan diperiksa.
Karang gigi dibersihkan.
Namun yang mungkin paling berharga adalah perasaan bahwa warga Desa Cempa tidak berjalan sendirian setelah bencana.
Sebab terkadang, bantuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.
Ada bantuan yang datang melalui tangan yang memeriksa kesehatan.
Ada kepedulian yang hadir melalui nasihat sederhana.
Dan ada harapan yang tumbuh hanya karena seseorang bersedia datang dan berkata, “Kami peduli dengan kesehatan Bapak dan Ibu.”
Melalui kegiatan tersebut, FKG USU berharap masyarakat Desa Cempa semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mampu menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat selama masa pemulihan pascabanjir.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan plakat dan foto bersama antara tim FKG USU, pemerintah desa dan masyarakat.
Senyum pun kembali hadir di wajah-wajah warga.
Mungkin luka akibat banjir belum seluruhnya sembuh.
Mungkin kehidupan belum sepenuhnya kembali seperti semula.
Tetapi hari itu, di Desa Cempa, ada satu hal yang kembali tumbuh: keyakinan bahwa di tengah kesulitan, masih ada tangan-tangan yang datang untuk membantu, hati yang memilih untuk peduli, dan harapan yang perlahan mengajak mereka bangkit kembali.
Karena banjir boleh merendam rumah dan meninggalkan luka, tetapi kepedulian manusia selalu punya cara untuk menyalakan kembali harapan—bahkan melalui sebuah senyum kecil. (*)