Pelindo Regional 1 Dorong Belawan Lebih Hijau, Penghijauan Berbasis Masyarakat Jadi Gerakan Bersama
Medan, 10 September 2026 — Di tengah padatnya aktivitas kawasan pelabuhan dan kehidupan masyarakat pesisir, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Dari Belawan, upaya itu mulai dirawat melalui sebuah gerakan sederhana: menanam, merawat, dan menumbuhkan kesadaran bersama.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 mendorong gerakan penghijauan di kawasan Medan Belawan melalui pelatihan penanaman dan pemeliharaan tanaman berbasis masyarakat.
Kegiatan yang digelar di Kantor Camat Medan Belawan, Rabu (9/9/2026), tersebut menjadi bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo Regional 1 untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Bagi Pelindo, menanam pohon bukan sekadar menambah jumlah tanaman.
Lebih dari itu, penghijauan dipandang sebagai investasi untuk menghadirkan lingkungan yang lebih nyaman dan sehat bagi masyarakat, sekaligus menumbuhkan kepedulian bahwa menjaga bumi harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Karena itu, masyarakat tidak hanya diajak menanam, tetapi juga diberikan pengetahuan mengenai pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan, teknik penanaman, hingga cara merawat tanaman agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Program tersebut mengedepankan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat. Harapannya, penghijauan tidak berhenti ketika bibit ditanam dan tanah kembali ditutup, tetapi terus berlanjut melalui perawatan, pemantauan, serta kepedulian bersama.
Regional Division Head Pelayanan SDM dan Umum Pelindo Regional 1, Basri Alam, mengatakan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
“Lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Karena itu, upaya penghijauan harus melibatkan masyarakat agar mereka tidak hanya mengetahui proses penanaman, tetapi juga memahami bagaimana lingkungan di sekitarnya dapat dijaga,” ujar Basri.
Menurutnya, program TJSL Pelindo tidak semata-mata diarahkan untuk memberikan manfaat secara langsung, tetapi juga membangun kesadaran dan kemampuan masyarakat agar mampu mengambil peran dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
“Kami ingin kegiatan ini memberikan manfaat yang lebih luas. Masyarakat mendapatkan pengetahuan, kemudian dapat menerapkannya dalam menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal maupun wilayahnya,” katanya.
Sementara itu, praktisi lingkungan dari Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, Ph.D., yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, mengingatkan bahwa keberhasilan penghijauan sangat bergantung pada ketepatan memilih tanaman.
Menurutnya, kondisi tanah, ketersediaan air, cahaya matahari hingga karakteristik tanaman harus menjadi pertimbangan sebelum proses penanaman dilakukan.
“Kalau kita ingin menanam, harus melihat terlebih dahulu kondisi lingkungannya. Jenis tanah, ketersediaan air, cahaya dan karakter tanaman harus menjadi pertimbangan. Jangan sampai tanaman yang dipilih tidak sesuai dengan tempat tumbuhnya,” jelas Onrizal.
Ia menambahkan, setiap tanaman memiliki fungsi ekologis yang berbeda. Karena itu, memilih tanaman tidak cukup hanya berdasarkan keindahan, tetapi juga harus mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan terhadap lingkungan.
“Kita harus melihat tanaman itu nantinya berfungsi untuk apa. Ada tanaman yang lebih cocok untuk memberikan keteduhan, ada yang membantu memperbaiki kondisi lingkungan, dan ada juga yang memiliki fungsi ekologis lainnya,” katanya.
Yang tidak kalah penting, lanjut Onrizal, adalah memastikan tanaman tetap hidup setelah ditanam. Sebab, tantangan penghijauan sesungguhnya bukan hanya menanam, melainkan menjaga agar tanaman tersebut tumbuh dan berkembang.
“Tanaman itu makhluk hidup. Setelah ditanam tentu membutuhkan air, unsur hara dan pemeliharaan. Kalau ada yang mati, perlu dilakukan penyulaman. Jadi, keberhasilan penghijauan sangat ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan tanaman setelah ditanam,” ucapnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah bibit kecil yang ditanam hari ini membutuhkan tangan-tangan yang peduli untuk menjadikannya pohon yang kelak memberi keteduhan.
Melalui program TJSL ini, Pelindo Regional 1 bersama para mitra berupaya membangun pola penghijauan yang tidak sekadar mengejar jumlah pohon yang ditanam, tetapi memastikan adanya kesesuaian dengan lingkungan, keberlanjutan pemeliharaan, serta keterlibatan masyarakat.
Sebab, lingkungan yang hijau tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh dari kepedulian yang dirawat terus-menerus.
Dari Belawan, Pelindo Regional 1 berharap gerakan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan kawasan yang lebih hijau, sehat, nyaman dan terawat.
Menanam adalah langkah awal. Merawatnya adalah bentuk kepedulian. Dan menjaganya bersama-sama adalah warisan untuk generasi yang akan datang.
Indra/humas