Rambut Gondrong Agus Flores Kembali Jadi Sorotan, Ternyata Ada Kisah Masa Kecil dan Perjalanan Batin yang Tak Banyak Diketahui
JAKARTA — Di balik rambut gondrong yang kembali menghiasi penampilannya, ternyata tersimpan cerita panjang tentang seorang anak kecil, kenangan bersama orang tua, dan perjalanan seorang lelaki yang kini memasuki usia setengah abad.
Bagi orang lain, rambut mungkin hanya bagian dari penampilan.
Namun bagi Ketua Umum Fast Respon Counter Polri (FRN), Agus Flores, rambut gondrong ternyata memiliki cerita tersendiri. Cerita yang bermula jauh sebelum dirinya dikenal seperti sekarang.
Pertanyaan tentang rambut gondrong itu pun kembali muncul.
“Banyak yang tanya, kenapa gondrong lagi saya?” ujar Agus.
Jawabannya kemudian membawa ingatan Agus kembali ke masa kecil.
Ia mengenang dirinya ketika masih berusia sekitar empat tahun. Saat itu, rambutnya disebut tidak mudah dipotong karena setiap kali hendak dipotong, ia justru mengalami sakit.
“Tanya saja sama ayah saya. Karena masa kecil umur empat tahun, rambutku nggak bisa dipotong, karena selalu sakit,” ungkapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di baliknya seakan ada kenangan seorang anak kecil yang hanya diketahui oleh keluarga dan orang-orang terdekatnya. Sebuah kisah dari masa lalu yang puluhan tahun kemudian kembali muncul dalam perjalanan hidupnya.
Kini, ketika rambut itu kembali gondrong, Agus tidak lagi berbicara tentang masa kecil semata.
Ia memilihnya karena memang menyukai penampilan tersebut.
“Hobi saja mau gondrong. Semau gue,” katanya santai.
Tetapi semakin dalam percakapan itu berjalan, ternyata ada alasan lain yang jauh lebih personal.
Memasuki usia setengah abad, Agus mengaku ingin mengisi perjalanan hidupnya dengan lebih banyak mendatangi tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual. Ia ingin berziarah ke tempat para Aulia.
“Pingin ziarah ke tempat-tempat Aulia saja di umur setengah abad ini,” tuturnya.
Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang mulai memasuki usia lima puluh tahun.
Bukan lagi sekadar mengejar apa yang terlihat oleh mata. Bukan hanya tentang bagaimana seseorang dipandang dunia. Tetapi perlahan mulai bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana perjalanan ini membawa arti?
Mungkin itulah yang sedang dirasakan Agus.
Rambut gondrongnya boleh menjadi sorotan. Tetapi perjalanan batinnya jauh lebih panjang daripada rambut yang terlihat.
Ada masa kanak-kanak yang pernah dilalui.
Ada ayah dan keluarga yang menyimpan cerita.
Ada perjalanan hidup yang telah melewati begitu banyak fase.
Dan kini, di usia setengah abad, ada keinginan untuk lebih banyak menundukkan hati, mendatangi tempat-tempat para Aulia, serta mengenang bahwa kehidupan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang apa yang bisa direnungkan dan diwariskan.
Rambut itu mungkin akan terus tumbuh.
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.
Usia terus bertambah, sementara kenangan masa kecil tetap tinggal di dalam ingatan.
Karena itu, ketika Agus Flores berkata, “Semau gue,” mungkin kalimat tersebut bukan sekadar bentuk kebebasan memilih gaya.
Di baliknya ada perjalanan panjang seorang manusia yang ingin menjalani sisa langkahnya dengan caranya sendiri—membawa kenangan masa lalu, menikmati hari ini, dan mencari ketenangan dalam perjalanan spiritualnya.
Sebab pada akhirnya, manusia boleh dikenal dari penampilannya.
Tetapi kisah hidupnya jauh lebih dalam daripada apa yang terlihat oleh mata.
Indra